IMPAK ISU ROYALTI MINYAK KELANTAN TERHADAP HUBUNGAN KERAJAAN PUSAT-NEGERI (Kelantan Oil Royalty Issue and its Impact on Federal-State Relations)

ZAILANNI AMIT

Abstract


 

Hasil minyak yang juga dikenali sebagai emas hitam adalah antara faktor utama yang mencetuskan konflik kerajaan pusat dan negeri.  Ini dapat dilihat dalam kes di Nigeria, Sudan, dan Venezuela sehingga mencetuskan konflik dan perpecahan.  Malaysia juga menghadapi konflik yang sama.  Ini kerana kerajaan negeri tidak berpuas hati dengan pembahagian royalti minyak yang hanya diberikan sebanyak 5% sahaja kepada kerajaan negeri dan selebihnya diambil oleh kerajaan pusat.  Pertanyaannya, jika kerajaan negeri yang menerima 5% royalti dari kerajaan pusat pun tidak berpuas hati dengan bayaran royalti tersebut, bagaimana pula dengan kerajaan negeri yang tidak dibayar royalti ini?  Inilah yang menjadi fokus artikel ini untuk menilai impak tuntutan kerajaan Kelantan untuk mendapatkan royalti minyak yang dijumpai di wilayah perairannya terhadap hubungan kerajaan pusat-negeri.

________________________

 

Petroleum which is also known as black gold is one of the main factors that trigger conflict between federal and state governments.  This can be seen in the case of Nigeria, Sudan, and Venezuela that cause conflict and disunity.  Malaysia also faces similar conflicts.  This is because the state government is not satisfied with the 5% oil royalties given by the federal government to the state.  The question is, if the state government which receives 5% of the oil royalties from the central government is not satisfied with the amount, what about the state government which is not given any royalty?  This article assesses the Kelantan government claims to get oil royalties that are found in its territory, and its impact on centre-state relations.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.